Pimpinan Cabang (PC) IPNU IPPNU Nganjuk sukses menggelar agenda prestisius bertajuk “Gen Z Talk” pada Minggu, 26 April 2026. Bertempat di Aula POLRES Nganjuk, acara ini menjadi kawah candradimuka bagi para penggerak kaderisasi di tingkat akar rumput untuk merancang masa depan organisasi yang lebih progresif.

Dengan mengusung tema besar “Fuel the Future: Kaderisasi Sebagai Bahan Bakar Keberlanjutan Organisasi”, kegiatan ini hadir sebagai jawaban atas tantangan zaman. PC IPNU IPPNU Nganjuk menyadari bahwa di tangan generasi Z, pola kaderisasi tidak bisa lagi menggunakan cara-cara lama yang kaku.
Peserta yang hadir merupakan tokoh-tokoh kunci dari PAC (Pimpinan Anak Cabang) Kab.Nganjuk, yakni perwakilan Departemen Kaderisasi PAC serta punggawa DKAC CBP KPP. Kehadiran mereka menegaskan bahwa sinergi antara intelektualitas (IPNU IPPNU) dan kedisiplinan lapangan (CBP KPP) adalah mesin utama organisasi.

Acara ini semakin berbobot dengan kehadiran dua pemateri yang sangat kompeten di bidangnya, yaitu, Rekan Iqbal Hamdan Habibi (Ketua Kaderisasi Pimpinan Pusat IPNU), yang memberikan wawasan strategis mengenai arah kaderisasi nasional serta Komandan M. Toif Nizar Fatoni (Demisioner Wakil Komandan DKW CBP JATIM), yang membedah militansi dan loyalitas kader CBP KPP dalam menjaga marwah organisasi.
Ketua Pelaksana, Rekan Ammar dalam sambutannya menekankan bahwa kaderisasi bukanlah beban, melainkan investasi jangka panjang.
“Kaderisasi adalah bahan bakar. Tanpa inovasi di Departemen Kaderisasi dan DKAC, roda organisasi akan macet. Melalui Gen Z Talk ini, kita ingin memastikan stok ‘bahan bakar’ kita melimpah dan berkualitas tinggi untuk tahun-tahun mendatang,” ujarnya.
M. Abdur Rochim, selaku Ketua PC IPNU Nganjuk juga menyampaikan pesan mendalam mengenai fenomena depresi yang kian mengkhawatirkan di Indonesia.
Dalam paparannya, Rekan Rochim membuka mata para peserta dengan data statistik yang mengejutkan. Tercatat ada 1.270 kasus bunuh diri di Indonesia dalam kurun waktu singkat sejak akhir 2025, di mana 7,66% di antaranya dilakukan oleh remaja di bawah usia 17 tahun.
“Banyak yang kelihatannya baik-baik saja di luar, namun menyimpan rasa putus asa mendalam di dalam. Mereka merasa sendirian menghadapi tekanan ekonomi, akademik, hingga hubungan yang buntu,” ungkapnya di hadapan perwakilan kaderisasi se-Kabupaten Nganjuk.
Mengusung narasi unik “Mengapa Memilih Kata Otak Daripada Kata Hati?”, Rekan Rochim mengajak kader untuk lebih rasional dalam menghadapi badai emosi. Ia menekankan bahwa saat hati terasa hancur, logika harus mengambil alih untuk mencari jalan keluar dan bantuan.
Ia memberikan pesan kuat agar para kader tidak memendam beban sendirian : “Gagal ujian bukan berarti gagal hidup. Ditolak cinta bukan berarti ditolak dunia. Bercerita dan mencari pertolongan bukanlah tanda kelemahan, melainkan tanda keberanian.” pungkasnya
Antusiasme peserta terlihat dari diskusi dua arah yang intens. Mereka tidak hanya mendengarkan, tetapi juga memetakan masalah (mapping) yang ada di kecamatan masing-masing kemudian memberikan banyak sekali pertanyaan-pertanyaan kepada narasumber untuk memberikan solusi bersama secara taktis.
Pewarta : Niska Yogi Noviana